Komite Disiplin PSSI menjatuhkan sanksi terkait insiden pada pertandingan 17 Oktober 2026 di dua tingkat kompetisi nasional. Keputusan bertanggal 20 Oktober itu kemudian dijelaskan I.League sehari sesudahnya melalui keterangan mengenai tanggung jawab klub, panitia pertandingan, dan suporter. Persita Tangerang, Persija Jakarta, PSGC Ciamis, serta PSIS Semarang disebut dalam pengumuman tersebut. Beritanya menyoroti konsekuensi gangguan keamanan yang tetap berlangsung setelah pertandingan selesai dan hasil akhir sudah tercatat.

Pada pertandingan Persita melawan Persija, panitia pelaksana Persita dikenai denda Rp40 juta karena kegagalan menjaga ketertiban dan keamanan. Klub Persita juga menerima denda Rp30 juta serta larangan kehadiran suporter pada satu pertandingan tandang ketika menghadapi Persija. Keterangan penyelenggara menghubungkan keputusan tersebut dengan keributan dan korban luka. Dengan demikian, tanggung jawab panitia pertandingan dibahas terpisah dari sanksi terhadap klub, meskipun keduanya berhubungan dengan peristiwa yang sama.

Dampak keputusan melampaui hari pertandingan

Persija menerima denda Rp60 juta terkait petasan dan pelemparan flare, serta denda Rp30 juta dan pembatasan kehadiran suporter dalam enam pertandingan tandang terkait kerusuhan. Di kompetisi Championship, panitia PSGC Ciamis dikenai denda Rp20 juta setelah bus PSIS tertahan di stadion. PSGC sebagai klub turut menerima denda Rp15 juta dan larangan kehadiran suporter pada satu laga tandang melawan PSIS. PSIS mendapat denda Rp15 juta serta pembatasan suporter pada enam pertandingan tandang.

Rincian itu menunjukkan bahwa konsekuensi sebuah insiden tidak berakhir ketika tim meninggalkan lapangan. Pertandingan berikutnya dapat terdampak melalui pembatasan dukungan langsung, sementara klub dan panitia harus merespons tanggung jawab yang dijelaskan penyelenggara. Pengumuman tersebut perlu dibaca sesuai kategori sanksinya. Denda kepada panitia, denda kepada klub, dan ketentuan mengenai kehadiran suporter merupakan bagian berbeda dalam keputusan, sehingga tidak tepat digabungkan menjadi satu bentuk hukuman tanpa penjelasan.

Direktur Utama I.League Ferry Paulus menempatkan keamanan sebagai perhatian bersama setelah kesempatan kehadiran suporter tandang kembali dibuka. Ia menyoroti koordinasi dengan PSSI serta kepolisian dan pentingnya mempertimbangkan keadaan pertandingan yang mempunyai rivalitas tinggi. Keterangan tersebut berkaitan dengan pelaksanaan kompetisi, bukan sekadar reaksi terhadap satu hasil pertandingan. Kehadiran penonton membutuhkan pengaturan yang melibatkan lebih dari satu pihak dan tetap mempunyai konsekuensi ketika ketertiban tidak dapat dipertahankan.

Kepentingan penonton lain

Ferry juga menghubungkan pekerjaan keamanan dengan kehadiran keluarga, perempuan, dan anak-anak di stadion. Penekanan itu memperluas sudut pandang dari kelompok yang terlibat dalam insiden menuju penonton lain yang menggunakan ruang pertandingan yang sama. Penguatan aturan tambahan sempat dibicarakan sebagai kemungkinan ke depan, tetapi tidak dapat diperlakukan sebagai sanksi baru yang otomatis sudah berlaku. Dasar pemberitaan tetap keputusan yang telah diterbitkan serta arah evaluasi yang disampaikan penyelenggara pada saat itu.

Bagi pembaca berita Jalalive, pengumuman ini melengkapi catatan pertandingan dengan dampak yang tidak terlihat melalui gol dan klasemen. Keterangan tentang sanksi membantu menjelaskan mengapa ketentuan kehadiran suporter dapat berbeda pada pertandingan mendatang. Pembahasan tetap bersandar pada pengumuman I.League mengenai keputusan Komdis PSSI, tanpa memperluas tuduhan di luar peristiwa yang disebutkan. Keamanan dan tanggung jawab penyelenggaraan menjadi pokok kabar, sementara hasil pertandingan merupakan latar bagi rangkaian keputusan tersebut.